.

Sinopsis Drama Korea Descendants of the Sun Episode 6 Part 2

Sinopsis Drama Korea Descendants of the Sun Episode 6 Part 2


Shi Jin melihat berita di jalan kalau Urk dilanda gempa 6,7 Magnitude. Shi Jin langsung menghubungi basecamp untuk  mencaritahu kabar di Mowuru dan jangan ditutup sampai benar-benar pasti. Lalu Shi Jin putar balik, mungkin mau ke basecamp.


Di RS Haesung juga heboh berita yang sama. banyak telfon yang menanyakn perihal berita tersebut, mungkin untuk menanyakan kabar keluarga mereka yang ditugaskan di Urk.

Hee Eun yang sedang hamil besar takut terjadi sesuatu pada suaminya, Chi hiin. Ji Soo menengkannya, semuanya akan baik-baik saja, dia akan baik-baik saja tak akan terjadi apa-apa.


Ketua Han menerima telfon dari seseorang, ia menjawab kalau ia akan mengabari balik kalau ia sudah menerima kabar dan ia juga bergegas menuju suatu tempat.

Hee Eun yang mendengar jawaban ketua Han menangis.


Bawahan Komandan Yoon memberikan daftar siapa saja yang akan berangkat ke Urk yang akan berangkat 10 menit lagi. bawahan mengatakan kalau mereka akan focus di tempat Letnan Yoon berada.


“Jangan buang-buang waktu hanya untuk 1 letnan. Dia disana untuk bertugas.” Balas Komandan Yoon.


Komandan Yoon selesai membaca daftar tentara yang akan berangkat, Dae Young tak ada dalam daftar, kemudian Komandan memerintahkan bawahannya untuk memasukkan Dae Young. Bawahan mengatakan  kalau Dae Young sudah menawarkan diri dan tengah bersiap berangkat.


Lalu Letnan Yoon menanyakan mobilnya, apa sudah siap. Saat bawahan menjawab siap, Komandan langsung berdiri membawa baret dan sesuatu yang panjang (tapi bukan tongkat), mungkin itu senjata komandan.


Semua Orang bergegas segera naik kedalam pesawat. Tapi Mo Yeon tak mau, ia berdebat dengan Sersan Choi ingin kembali. Sersan Choi tak bisa karena ia diperintahkan untuk memulangkan Mo Yeon.


Kemudian Dr Sang Hyun ikutan membela Mo Yeon. Tim medis akan bertanggung jawab penuh jadi Sersan Choi cukup membawa mereka kembali ke Mowuru saja. Sersan Choi tetap tidak bisa.


“Aku yang bertanggung jawab dalam timku. Jika terjadi bencana alam maka tim medis pasti akan dibutuhkan. Setengah dari timku juga ada di sana. Kami tak akan pulang tanpa mereka.” Jelas Mo Yeon.

“Kenapa kau selalu saja egois... Aku sangat tak menyukaimu. Kau tahu itu?” balas Sersan Choi.

“Aku tahu sekarang. Kita bisa membahasnya nanti.”

Akhirnya sersan Choi mau membawa setengah Tim medis ke Mowuru.


Para petinggi mengadakan rapat. Kuarang tahu ini di Blue House atau tidak. Orang yang memiliki jabatan tertinggi diantara mereka bertanya, Apakah pemerintah bisa mengirim tim penyelamat.

Salah seorang menjawab kalau Wilayah Urk masih dalam status sengketa. Jadi, tak bisa begitu saja mengirim tim.


Ketua Han membantak, Mengatakan sesuatu yang tak bisa dilakukan tak akan menyelesaikan masalah. RS Haesung sendiri sudah mengirim tim medis, tapi, tak mendengar kabar apapun dari mereka.


Komandan Yoon Gil Joon, Komandan Pasukan Khusus. berjanji... akan mengirim pasukan terbaik untuk menyelamatkan mereka semua.

Ketua Han masih emosi, bagaimana Komandan bisa mengirim mereka dan Jika sesuatu terjadi pada stafnya... dia berhenti sebentar lalu melanjutkan, Jika membutuhkan uang, Haesung yang akan menyediakannya. Jadi cepatlah bergerak.

Komandan menyebutkan bahwa A C-17, pesawat angkut tercepat mereka, akan berangkat 30 menit lagi, tepat pada pukul 01:00 pagi, berangkat dari Suwon. Dan juga... Dalam Pasukan Khusus ini, mereka mengirim anggota terhebat.


Di dalam pesawat, Dae Young masih sempat bercanda, apa Shi Jin sudah menyerah dengan liburannya. Shi Jin menjawab kalau ia harus melakukan kewajibannya.. "Kau pasti sangat kagum padaku."

Dae Young hanya membalasnya dengan senyum.


Sampai di medicube Mowuru, Dr Sang Hyun ribut-ribut mencari Ja Ae. Ja Ae keluar membawa obat-obatan dan menyuruhnya diam, ia ada disana. Dr Sang hyun memperhatikan Ja Ae yang tampaknya baik-bak saja, ia sangat lega. Ja Ae bertanya, kenapa mereka kembali.


Mo yeon menanyakan kabar yang lain. Ja Ae menjelaskan kalau yang lainnya juga baik-baik saja. Min Ji menambahi kalau saluran telfon terputus, jadi mereka tak bisa menghubungi siapapun. ia ketakutan setengah mati tadi.


"Semuanya sudah baik-baik saja. Jangan menangis." Hibur Mo Yeon.

dan Mo Yeon juga beryukur semuanya baik-baik saja. ia memerintahkan semuanya untuk tak ke mana-mana, dan tunggu di medicube. Ia akan mencoba menghubungi pihak Seoul.


Mo Yeon beralih ke Chi Hoon yang sedang merawat Gi Beom. Mo yeon tanya keadaannya Gi beom. Chi Hoon menjelaskan kalau Bahu Gi Beom terkilir. Tapi, dokter militer (melirik Myeong Ju) sudah mengobatinya.

"Tidak apa-apa, kok." Ujar Gi Beom.

Myeong Ju menjelaskan pada Mo Yeon kalau Pasukan barak tak terluka parah. Tapi, kenapa Mo Yeon kembali? Apa bandaranya juga hancur?

seorang tim medis lain juga ikutan khawatir, benarkah bandaranya hancur?


Dr Sang Hyun menjelaskan kalau Bandaranya baik-baik saja. Mereka tak bisa pergi sebelum memastikan kondisi rekan-rekan semua. Jadi, mereka kembali.

"Syukurlah. Kupikir aku tak akan bisa pulang." Ucap Min Ji lega.

Lalu pihak militer melapor ke tim medis kalau bangunan pembangkit listrik  runtuh.


Tim medis bergegas ke sana. Sesampainya disana mereka hanya bengong melihat begitu banyaknya korban.

Mo Yeon memerintahkan Timnya untuk mengenakan jubah agar pasien bisa mengenali mereka. mereka akan menggunakan  protokol triase.

"Hijau untuk non-darurat, kuning untuk cedera ringan... Dan merah untuk pasien gawat darurat yang membutuhkan pengobatan cepat." jelas Chi Hoon.

"Dan untuk pasien kritis yang tak dapat diobati di TKP, Hitam. Warna untuk status meninggal. Ingat, tandai dengan warna hitam. Dan fokus pada mereka yang bisa diselamatkan." Lanjut Mo Yeon.


Tim medis sudah siap bergerak. Seorang tim bertanya, apa mereka perlu persetujuan Mo Yeon untuk menggunakan morfin atau Demerol. Moyeon menjawab Ya, obat tak bisa digunakan untuk sembarang pasien. Mereka harus menganilisis kondisinya, dan memilih alternatif yang lain yang terbaik. Lalu mereka mulai bergerak.


Mo Yeon mumukulkan sepatunya ke besi agar hak-nya lepas.


Pasien pertama Mo Yeon adalah pekerja yang diselamatkan tentara. tentara menjelaskan kalau pasien itu tak mengalami pendarahan. Denyut nadinya masih terasa hanya mengalami syok sesaat.

Mo yeon meminta tentara itu untuk memberi pasien oksigen, ia mau menyiapkan pengobatannya.


Tim medis dan tentara yang lain juga tak kalah sibuk dalam mengobati para pasien.


Kemudian Mr. Jin mendekati sersan Choi. bertanya, apa mereka sudah melakukan pencarian di dalam gedung. sersan Choi mengatakan kalau Bagunannya runtuh total, tapi mereka sudah berusaha masuk. lalu ia bertanya apa Mr. jin tahu dimana wakil Manager karena mereka tak bisa menemukannya.

"Manajer Ko (wakil manager) mendapat shift sore hari ini. Mungkin hanya ada 30 pegawai? Entahlah." Jawab Mr. Jin ta pasti

"Apa?"

"Dia mungkin ada di dalam. Aku ingin memberitahumu sesuatu. Ada barang yang sangat penting di dalam kantorku."

belum selesai bicara, Mr. Jin sudah ditinggal pergi sama Sersan Choi karena ia mendapat laporan ada yang membutuhkan bantuan.


Ada pasien gawat yang kejang-kejang sambil memuntahkan darah. Min Ji memanggil ja Ae untuk menanganinya kemudian Ja Ae memanggil Chi hoon untuk membantu.


Manager Ko sadarkan diri, ia ada di dalam gedung tertindih runtuhan bangunan jadi ia tak bisa bergerak. Dengan sisa tenanganya ia berusaha memanggil siapapun untuk membantunya karena ia merasa akan segera mati.


Seseorang mendengar manager Ko, dia adalah pekerja dengan Bahasa korea minim. Tapi keadaannya lebih parah dari manager Ko, ada besi yang menusuk punggungnya sampai tembus ke dada. Dia sangat kesakitan. Manager Ko memintanya untuk bertahan sebentar.


Manager Ko mengambil batu dan memukul-mukulkannya pada sebatang besi disampingnya untuk menimbulkan suara agar penyelamat tahu kalau ada orang disana.


Mo Yeon akan menangani pasien yang baru saja dilihatnya. Myeong Ju akan mengambil alih paisen itu dan menyuruh Mo Yeon untu ke tenda karena pasien disana lebih membutuhkan Mo Yeon.

Mo Yeon menengok ke tenda, ia melihat ada Chi hoon disana jadi ia tak khawatir. Tapi Myeong Ju meyakinkannya kalau ia bisa menangani pasien itu dan memaksa Mo Yeon untuk ke tenda.


Mo Yeon mendekati pasien di tenda. Chi Hoon terus melakukan CPR pada pasien karena nadinya masih bersa. Lalu Mo yeon menyentuh nadi pasien, ia mencopot pita kuning dan menggantinya dengan pita hitam.


“Meskipun denyut nadinya masih terasa, jantungnya sudah berhenti karena mengalami pendarahan. Maaf, tapi pasien ini sudah meninggal.” Jelas Mo Yeon.


Chi Hoon tidak mau berhenti, ia pasti bisa menyelamatkan pasiennya. Mo Yeon memintanya berhenti. Lalu ia mengatakan waktu kematian pasein. Chi Hoon menyelanya, menyuruh Mo Yeon menunngu, ia yakin kalau ia bisa menyelamatkan pasien itu.


“Dia baik-baik saja. Karena dia tak mengalami luka parah, aku memberinya warna kuning. Dia masih bisa selamat.” Kata Chi Hoon dengan nafas Ngos-ngosan karena terus melakukan CPR.

PLAK.. Dr Sang Hyun datang menampar Chi Hoon.


"Apa kau sudah gila? Sadarlah. Jangan seperti ini. Jangan cengeng. Bersikaplah seperti selayaknya seorang dokter."

"Memangnya aku ini dokter apa? Aku bahkan tak bisa memasang warna yang tepat. Dokter macam apa itu?"


Dr Sang Hyun memegang pundak Chi Hoon.

"Kau adalah dokter. Seseorang yang akan dibutuhkan ditempat seperti ini. Kau adalah orang itu. Jadi, umumkan waktu kematian pasien... dan terus lanjutkan tugasmu. Pergilah ke pasien yang masih bisa kau selamatkan. Apa kau tak bisa mendengar teriakan mereka?"


Chi Hoon menangis pilu. mungkin ini kali pertama pasiennya meninggal.

"Yang kuatlah, Lee Chi Hoon." Ujar Mo Yeon dengan menelus pundaknya.

"Waktu kematian... 03:40 sore... Waktu Urk.” Umum Chi Hoon terbata-bata. Lalu ia memejamkan mata pasien dengan tangannya.

Mo Yeon juga berusaha menahan tangisnya.

Sersan Choi membawkan penutup kain untuk pasien itu. Mo Yeon menggenggam erat pita kuning yang ia lepaskan tadi.


Ji Soo menelfon Mo yeon tapi tak tersambung jadi ia meninggalkan pesan suara.

“Hei, Mo Yeon. Apa semuanya baik-baik saja? Cepat telepon aku. Aku sudah membeli wine. Jadi, cepat pulang dan minum bersama.”


Mo Yeon dan Myeong Ju bekerja sama untuk menyelamatkan pasien.

Mo Yeon (Narasi): Aku telah diberikan titah untuk menjadi seorang dokter. Aku sudah berjanji... untuk mempertaruhkan hidupku untuk menyelamatkan umat manusia.


Dr Sang Hyun sedang menikmati makan malam seadanya dengan Gi Beom tapi ada keadaan darurat. Tanpa ragu ia langsung kesana meninggalkan makanannya. Gi Beom juga menyusul Dr Sang Hyun meninggalkan makanannya.

Kesehatan dan kehidupan pasienku adalah... prioritas utamaku.


Chi Hoon bersama Ja Ae berada dalam satu tim untuk menyelamatkan pasien.

dan menyelamatkan pasienku Tanpa memandang ras, agama, atau kebangsaan.


Para tentara bekerja sama untuk menarik sesuatu. Tapi pada akhirnya rantainya butus dan runtuhan bangunan kembali tertutup. Sersan Choi dan yang lain berada dalam kesuliatan.

Aku tak akan melepaskan tanggung jawanku... bahkan saat aku berada dalam ancaman.


Pasien Mo Yeon selanjutnya tidak terlalu parah. Mo yeon akan pergi setelah menempelkan plester. Pasien itu menarik tangan Mo yeon. Mo Yeon mengira kalau masih ada bagian lain yang sakit.

Kamera focus pada kaki Mo Yeon yang lecet-lecet kemudian pasien mencopot sepatunya dan memberikannya untuk Mo Yeon.

Aku telah menerima sumpah ini... dan menjadi hidupku... Dan atas nama kehormatanku.


Lalu kita diperlihatkan foto wisida Mo yeon saat kelulusan menjadi dokter.


Sersan Choi membawa pasien dengan tandu. Gi Beom bertanya, apa pasien itu mau di bawa ke Tim medis. Sersan Choi menggeleng. Gi Beom kembali masuk ke dalam tenta ia menggati angka 13  dengan 14. Itu adalah hitungan orang yang meninggal.


Kemudian tersengar suara helicopter.semuanya melihat kea rah datangnya helicopter. Dari dalam helicopter meluncurlah 6 tentara yang berjalan menuju ke arah mereka.


Mo yeon melihat Shi Jin diatara para tentara itu dan Shi Jin juga melihat Mo Yeon. Tapi Mo Yeon tidak bisa lama-lama disana karena ada seseorang yang mintanya untuk menolong temannya.


Shi Jin menerima hormat dari para anggotanya di Urk.

“Kalian sudah bekerja keras. Apa ada yang terluka?” tanya Shi Jin.

“Tidak ada, Pak!” jawab mereka serentak.

"Baiklah. Aku sudah mendengarnya semuanya, jadi tak usah ada laporan. Kita akan memulai... erakan penyelamatan pada pembangkit listrik. Apa ada orang yang ingin meminta ijin?"

"Tidak, Pak!"

"Baiklah. Hanya ada satu hal yangperlu kalian ingat selalu. Jangan sampai kalian terluka. Jika kita terluka, Kita tak bisa menyelamatkan orang-orang yang perlu diselamatkan. Mengerti?

"Mengerti, Pak!"

Lalu Shi Jin memerintahkan mereka kembali ke posisi masing-masing.


Myeong Ju lari-lari menemui Dae Young. Dae Young lega bisa melihat Myeong Ju, sebelumnya ia sangat khawatir. Lalu ia akan menuju pos-nya.

Myeong Ju memanggilnya. Dae Young berbalik.

“Jangan sampai terluka. Ini adalah perintah. Kau harus laksanakan itu selamanya. Kau mengerti?” perintah Myeong Ju.


Dae Young menjawab dengan hornatnya dan Myeong Ju membalas hormatnya.


Mo Yeon berhenti karena tali sepatunya kepas. Ia meletakkan tasnya di samping. Kemudian seseorang meletakkan helm di samping kakinya lalu mengikatkan tali sepatunya.


Mo yeon mendongak, dia melihat Shi Jin di depannya. Mereka tak bicara apa-apa sampai Shi Jin selesai mengikat tali sepatu Mo Yeon.


Setelah ia selesai. Mo yeon segera berdiri dan memakai tasnya kembali. Sampai saat ini mereka belum menatap satu sama lain. Shi Jin mengambil helmnya lalu berdiri.

“Syukurlah, kau tak terluka.” Ucapnya.


Dan barulah Shi Jin menatap mata Mo Yeon, ia minta maaf karena tak mengatakan salam berpisahan sebelum dia pulang kemarin.

“Aku tak bisa menemanimu. Jadi, aku mohon... hati-hatilah.” Lanjutnya,

“Kau... juga.”


Dan mereka melanjutkan berjalan ke arah berlawanan.

Lanjut episode 7