.

Sinopsis Drama Korea Descendants of The Sun Episode 15 part 1

Sinopsista.Com - Sinopsis Drama Korea Descendants of The Sun Episode 15 part 1


Shi Jin mendengarkan sesuatu dengan headsetnya dan ia senyum.

Mo Yeon datang dan Shi Jin melepas headsetnya, Shi Jin bercanda, ia bertanya pada Mo Yeon, tidakkah ia terlihat seperti lukisan cantik?

"Ya, kau kerap kali begitu." Jawab Mo Yeon.

Mereka tertawa. Mo Yeon memberikan dokumen check out Shi Jin. Hari ini Mo Yeon akan menyupir untuk Shi Jin, ia akan berperan sebagai pacar bukan dokter.

"Wow... benarkah? kedengarannya menyenangkan. Ayo pergi." Ajak Shi Jin.

Sinopsis Drama Korea Descendants of The Sun Episode 15 part 1

Mo Yeon mendorong kursi roda Shi Jin, ia membahas cuaca hari ini yang sangat indah tapi Urk lebih indah lagi, Urk memiliki awan yang indah.

"Apa kau ingin kembali bersama?" tanya Shi Jin.

"Bersama?" Ulang Mo Yeon.

"Kenapa? Kau akan kesana dengan pria lain?"

Mo Yeon menjawab kalau itu tidak mustahil. lalu Mo Yeon bertanya, apa yang didengarkan Shi Jin. Shi Jin menjawab kalau itu kesukaannya dan ia memperdengarkannya ke Mo Yeon.



ternyata itu adalah rekaman pengakuan Mo Yeon. Mo Yeon kesal dan melepaskan kursi roda Shi Jin. Shi Jin meluncur, secara mereka di ketinggian.

Mo Yeon terkejut dan mengejar Shi Jin. kursi roda menabrak pembatas jalan dan SHi Jin terjatuh.



"Apa kau baik-baik saja? Bagaimana ini?” Mo Yeon panik.

"AKu baik-baik saja, aku hanya..."

Mo Yeon melewati Shi Jin, ia menuju kursi roda yang rusak, ia lebih khawatir akan kursi roda dari pada Shi Jin.

Shi Jin berdiri, ia protes pada Mo Yeon. Ia hampir mati setelah 10 menit keluar dari RS tapi Mo Yeon malah lebih khawatir pada kursi roda,

"Lalu, Kenapa kau mendengarkannya?! Sekarang gimana dengan kursi roda ini?!"

"Wanita ini benar-benar. Sekarang kau bahkan merusak kursi roda. Jangan gunakan transportasi publik mulai saat ini, demi keselamatan banyak orang (karena Mo Yeon selalu merusak)."



Myeong Ju menyuruh Dae Young untuk segera mengatakan apa yang ingin dikatakan karena ia akan pergi setelah selesai makan dan sekarang ia hampir selesai.

"Tidak ada yang ingin ku katakan."

Myeong Ju bertanya lagi, lalu kenapa Dae Young mengajaknya makan siang? Dae Young menjawab kalau Myeong Ju kurusan, makanya  ia traktir makan.

"Aku bertanya karena aku bingung, kita ini bagaimana? Kita putus atau hanya bertengkar? Status kita apa? Apa kita akan putus, sedang putus atau sudah putus?"

Dae Young menjawab kalau ia dalam proses menuju Myeong Ju dan ia mohon agar Myeong Ju mengijinkannya untuk melepas seragam.

"Aku ingin meninggalkan militer lalu bekerja di perusahaan pamanku.. dan hidup sebagai menantu ayahku? Apa kau pikir kau bisa menahannya?"

"Tapi kau disampingku."

"Ya... Kau terlihat sangat bahagia."



Dengan mengejutkan Myeong Ju mengatakan kalau ia yang akan berhenti, ia tak akan menemui ayahnya lagi. Ayahnya memiliki kehidupannya dan ia juga. Ia sudah bilang kalau ia bisa hidup tanpa ayahnya.

"Berhenti. Kau bisa dipromosikan manjadi Letnan Mayor, Letnan Kolonel, Kolonel dan mungkin... tidak, kau pasti akan menjadi Brigadir. Ayahmu memiliki putri dengan kemampuan baik. Kau tidak akan disetujui."

Myeong Ju tahu maksud Dae Young tapi ia tetap benci karena Dae Young yang mengatakannya.

"Apa kau pikir aku bahagia denganmu? Kau sudah selesa, kan? aku benar-benar kesini untuk memberimu makan. Aku pergi sekarang." Ujar Dae Young.

"Lain kali jangan bawa uang tapi jawaban,  kita putus atau tidak."

Dae Young tak menjawabnya, ia tetap pergi.


Komandan Yoon memandangi surat pengunduran diri Dae Young.



Shi Jin mengirim pesan ke Mo Yeon, sedang apa? Mo Yeon akan mandi. Langsung deh Shi Jin Video call-an.

"Kau segitu rindunya ya sama akau?" tanya Mo Yeon.

"Katanya mau mandi tapi kok masih memakai pakaian lengkap."

"Jadi, itu alasanmu menelfon? Bukan keran merindukanku?"

"Aku ingin melihatmu. Di banyak cara."

Mo Yeon menjawab kalau ia akan melepas pakaiannya setelah menutup telfon. dan ia menutupnya.



Bel pintu rumahnya berbunyi. Shi Jin datang, ia protes, kenapa Mo Yeon bohong, padahal ia pikir, Mo Yeon beneran mau lepas baju.

Mo Yeon bertanya, kenapa Shi Jin datang, apa pekerjaan Shi Jin sudah selesai. Sambil mengeluarakan keleng minuman Shi Jin mengatakan kalau lukanya masih sakit makanya ia datang untuk mendapatkan diagnosis tertulis.

"Kau harusnya ke rumah sakit." Mo yeon meluruskan.

"Aku harus mendatangi dokterku untuk mendapatkan diagnosis tertulis."

Mo Yeon tanya lagi, untuk apa semua minuman itu? kan Shi Jin lagi sakit. Shi Jin berpikir sebentar sebelum menjawab lalu berucap, pereda rasa sakit?

"Oh, sebelum aku mendapatkan diagnosis tertulis, Ayo lakukan sesuatu yang lain dulu. Isi bathup nya!" Ajak Shi Jin

"Jangan bermimpi ya."

"Ini mimpiku, jadi terserah dung."



Lalu Shi Jin menyuruh Mo Yeon mandi, ia akan menunggu. Mo Yeon menjawab seperti Shi Jin, ini kan tubuhnya jadi terserah dung mau mandi ato gak. Mo Yeon menghitung kaleng minuman, ia memperingatkan agar Shi Jin tak minum semua, ia sudah menghitung jumlahnya. Lalu Mo Yeon pergi mandi.



Mo Yeon selesai mandi dan udah ada lilin dimanam-mana. Mo yeon bertanya, untuk apa lilin-lilin itu? Shi Jin menjawab kalau itu adalah hadiah agar Mo Yeon kelihatan cantik dari segala sisi.

"Wow.. kau sangat cantik."

"Baru tahu ya?"



Mo Yeon tanya lagi, gimana Shi Jin tahu lilin kesukaannya. Shi Jin menjawab kalau ia melakukan observasi di rumah Mo Yeon (setelah melihat-lihat).

"Hanya sekali lihat?"

"Apa kau pikir aku kesini hanya sekali?"

"Tidak."

"Lalu berapa kali?"

"Kenapa? Aku tak penasaran kok."

Mo Yeon akan membuka kalengnya, Shi Jin melarangnya. Mo Yeon ingat, waktu ia mabuk kan. Shi Jin tanya, kapan pastinya.

"Dulu sekali." Jawab Mo Yeon.

Shi Jin kembalimelarang Mo Yeon untuk minum dengan lelaki lain. Mo Yeon balik bertanya, memangnya kenapa? apa SHi Jin akan menjemputnya dengan helikopter?

"Apa kau pikir aku tidak bisa?"

Mo Yeon jadi ingat. Ia tanya, waktu ia diculik Argus dulu, kenapa mereka bisa naik Helikopter Arab?

Shi Jin pura-pura sakit karena jatuh tadi tapi ia keliru, letak sakitnya bukan sebelah kanan tapi kiri dan Mo Yeon yang menunjukkannya. Mo Yeon menyuruhnya jujur, ia gak akan marah kok.

"Beneran ya?"

"Jujurlah, kau gunakan kartu itu atau tidak?"

"Ayo minum."

Mo Yeon kesal karena Shi Jin menggunakan kartu mereka untuk helikopter. Shi Jin beralasan kalau helikopter itu menyelamatkan hidup Mo Yeon. tapi bagi Mo Yeon tak ada gunanya hidup tanpa kartu itu.

"Jujur lah! Apa benar tidak ada apa-apa dalam helikopter? seperti dokumen perusahaan minyak atau uang tunai. Pikirkanlah baik-baik. Apa gak ada sesuatu seperti tas kantor warna hitam?"


Shi Jin dari tadi ngorek kuping mendengar Mo Yeon, ia pura-pura hausa dan akan mengambil minum di kulkas, namun Mo Yeon menghalanginya. Mo Yeonmasih kesal karena Shi Jin menggunakan  kartu itu untuk transportasi lagi.

Shi Jin mencubit pipi Mo Yeon, Aigo.. matrenya...



Tim Alpha datang  untuk mendukung Gi Beom ujian GED. Sesan Gong membawa kotak makanan untuk Gi Beom, Sersan Im memberikan garpu dan Sersan Choi Snack Almond.

"Jika kau ragu-ragu, pilihlah jawaban no 3. Kau bisa melakukan yang terbaik, kan?" Saran Dae Young.

Gi Beom menjawab kalau GED bukan apa-apa karena ia sudah mengalami Wamil. Ia pasti akan berhasil. Hormat!

Gi Beom masuk ke dalam dan mereka mendapat panggilan tugas, kecuali Dae Young.



Tim Alpha bersiap.

"Tim Alpha, ini adalah operasi gabungan. Setelah memakai seragam musim dingin. Datanglah ke bandara 463 pukul 21:00 hari ini."

Dae Young berdiam diri sementara yang lainnya sibuk packing. lalu seorang tentara datang menyampaikan kalau Komandan memanggil Dae Young.



Dae Young menghadap Komandan Yoon. Komandan mengatakan kalau Operasi ini akan berlangsung selama 3 bulan dan ia berpikir untuk mengirim Dae Young karena belum ada pengganti Dae Young Atau... Komandan menyodorkan form pengunduran diri Dae Young, Komandan mengatakan kalau ia bisa menyetujui pengunduran diri Dae Young sekarang jika Dae Young setuju.

"Apa yang harus kami lakukan?" Tanya Komandan.

"Saya ingin pergi, Pak."

Komandan senang, ia berpesan agar dae Young kembali dengan selamat. Komandan menjelaskan kalau ia akan memproses surat pengunduran diri dae Young kalau ada tentara pengganti Dae Young tapi ia tidak tahu kapan hari itu datang.

"Maaf pak. Tapi maksud Anda..."

"Ketika kau kembali, datanglah dengan Myeong Ju. kita bisa.... minum teh  bersama."

"Komandan."

"Keberangkatan jam 21:00 Jangan terlambat. Kembalilah dalam keadaan sehat dan selamat."

"Sersan Mayor, Seo dae Young. Saya akan kembali dengan selamat, Pak. Hormat."

Komandan membalas Hormat Dae Young. Dae Young keluar ruangan dan Komandan menyobek surat pengunduran diri Dae Young.



Dae Young menunggu Myeong Ju di depan apartemen Myeong Ju, tapi Myeong Ju tak kunjung datang. AKhirnya ia meninggalkan kalung pengenalnya di gagang pintu dan Myeong Ju menemukannya setelah pagi tiba.




Chi Hoon akhirnya tahu jkalau "Jadi" itu artinya kambing dalam bahasa Arab. Ia dan Daniel berteman di SNS dan ia titip pesan buat "Jadi" kemudian Daniel membalas kalau "Jadi" artinya kambing kecil dalam bahasa arab.

"Itu artinya.. Jadi bukan nama blackey." Tutup Chi Hoon.

Mo Yeon tak percaya, jadi sampai saat ini Chi Hoon belum tahu nama anak itu? Aigoo..

"Kesimpulannya: Pegang erat gigimu." Lanjut Mo Yeon.

Dr Sang Hyun, ja Ae dan Min Ji tertawa.


Mo Yeon mendapat telfon dari Shi Jin, ia lasngsung keluar menemui Shi Jin. Mo Yeon mengira kalau Shi Jin datang 2 jam lebih cepat seperti sebelumnya tapi melihat ekspresi Shi Jin sepertinya tidak. Shi Jin membenarkan.

"Kau harus ke 'mall' lagi?"

"Ya."

Shi Jin menjelaskan kalau ini akan memakan waktu lama makanya ia datang, ia ingin melihat wajah Mo Yeon sebelum pergi. Mo Yeon tanya, berapa lama? Seminggu? Dua minggu?

"Tiga bulan." Jawab Shi Jin.

Mo Yeon kaget, tiga bulan? apa 'mall'-mmya di luar negeri. Shi jin membuat istilah baru, anggap saja kalau ia sedang wamil, mereka biasanya cuti seletah seratus hari.

"jadi, kau memintaku menunggu selama tiga bulan?"

"Jangan minum dengan pria lain.”



Mo Yeon mencoba tidak menangis tapi susuh. Shi Jin memeluknya, ia minta maaf karena memberi penderitaan ini pada Mo Yeon. Kalau begitu, Mo yeon memintanya untuk kembali dengan selamat dan tepat waktu.

"Aku tak akan terluka. Aku tak akan meti. AKu akan kembali. Aku janji."

Mo Yeon melepaskan pelukannya, ia tanya apa ada internet. SHi Jin menjelaskan disana tidak ada sinyal ataupun internet, ia pasti akan menelfon tiap ada kesempatan.

"Hanya satu musim, tidak bersamaku. AKu akan kembali... saat musim berganti."

Shi Jin akan pergi. Mo Yeon memeluknya lagi.

"AKu akan merindukanmu."

"Aku juga," jawab Mo Yeon.



Dan Shi Jin benar-benar pergi. Mo Yeon mengantarnya sampai mobil Shi Jin tak terlihat. Mo Yeon teringat kata-kata Argus.

"Big Boss. Dia pintar, lucu, dan misterius. Tapi... dia memiliki k rahasia. Dia akan menghilang dari waktu ke waktu. Dia akan sulit dihubungi. Kemudian suatu hari, Phush... Dia tak akan pernah kembali."



Sebelum naik ke pesawat, SHi Jin menatap kebelakang sekali lagi.



Saat makan, Mo Yeon terus melamun, sampai Chi Hoon harus memanggilnya sebanyak 3 kali baru Mo Yeon meboleh. Chi Hoon khawatir karena Mo Yeon tak terlihat baik dari kemarin.

"Aku sampai dengan selamat. Aku merindukanmu." pesan Shi Jin yang barusan masuk ke ponsel Mo Yeon.

Mo Yeon lega membacanya. Ia bisa tersenyum sekarang.



Mo Yeon berangkat kerja sambil mengirim pesan untuk Shi Jin.

"Langit sangat indah di Seoul. Gimana disana? Dingin atu panas disana? Apapun itu. Aku merindukanmu dimanapun kau berada."



Mo Yeon terus mengirim pesan untuk Shi Jin.

"Aku mendengar lagu kebangsaan di TV. Aku tak bisa percaya, lagu kebangsaan mewakili hubungan kita."

"cepatlah kembali.. Aku rindu."



"Aku sibuk sepanjang pagi, dan akhirnya aku makan siang juga. Musim dingin disini. Kau bilang kau akan kembali saat musim berganti. Tapi kenapa kau tidak disini? AKu juga tidak mendengar kabarmu. Ini menjengkelkan. "

Mo Yeon menatap ke atas dan disana ada helikopter. Ia bergumam kalau ia berharap Shi Jin naik helikopter itu.



Shi Jin mengirim Sersan Coi, Gong dan Im untuk helikopter pertama, sedangkan ia dan Dae Young akan naik helikopter berikutnya.



Setelah helikopter berangkat. Shi Jin melapor dan mendapat laporan balik kalau helikopter berikutnya akan tiba dalam 10 menit, Ia memberitahukan hal ini ke dae Young. Dae Young mengerti.

Dan.... Shoot!!!! Shi Jin tertembak, di pungggung. Dae Young membopong Shi Jin ke tempat yang aman. Ia mencoba menekan luka Shi Jin untuk mencegah pendarahan.


Di rumah sakit, Mo Yeon menggumamkan lagu kebangsaan Korea.



Di lokasi perang, Dae Young masih berusaha mencegah pendarahan pada luka Shi Jin. Shi Jin mengingat saat Kaptennya dulu yang mati tertembak di pelukannya.

"Ayo minum selama 72 Jam." Ajak sang kapten.

"Iya, saya akan datang." Jawab SHi Jin hari ini.

Dae Young menggoyang-goyangkanya menyuruhnya tetap sadar,, "Kapten! Lihat aku, jangan sampai kau kehilangan kesadaran!"

Lalu peluru datang lagi, kali ini mengenai Dae Young. Dae Young tersungkur,  ia duduk di belah Shi Jin. Shi Jin menutup matanya...




Dalam pesawat, Sersan Choi mencoba mengontak Shi Jin dan Dae Young namun tak ada jawaban. kemudian terlihat dari atas kalau lokasi Shi Jin dan dae Young meledak.

"Tidak! Kapten! Wakil Kapten! GO Back! Go Back! Andweeeeeeeeee!!!!!!!!!!! Aaaaaaaaa!!!!!!!" Teriak Sersan Choi, Im dan Gong bergantian.



"Apa ini tidak keterlaluan. Walaupun kau mengirim surat dari pelanet mars, aku pasti sudah menerimanya saat ini. AKu akan minum dengan pria ganteng. Datanglah dan jemput aku."

Mo yeon membanting ponselnya ke meja. lalu ia minum soju. Myeong Ju datang, ia menjelaskan lagi kalau Shi Jin ada di tempat tanpa akses internet, tapi kenapa Mo Yeon terus mengirim pesan setiap hari dan selalu marah setiap hari?

"Jadi dia akan merasa bersalah kaena membuatku marah. " jawab Shi Jin.

Lalu Mo Yeon bertanya, apa memang sesulit itu? Myeong Ju menjawab, mau sulit atau tidak, ia tidak pernah mendapat balasan karena mereka putusnya lebih lama dari pada saat bersama.

"Apa kau sudah baikan setelah terakhir kali bertengkar?"

Myeong Ju menggeleng. Tidak ada baikan. Ini bukan pertengkaran cinta, Ini adalah pertempuran. Pokoknya Myeong Ju tidak akan kalah kali ini. Lagian dae Young meninggalkan kalung pengenalnya, jadi Myeong Ju memiliki kesempatan kali ini. lalu mereka bersulang.

"Lihat saja. AKu akan melupakan pekerjaanku dan akan tinggal bersamanya selama satu minggu. Tepat atu minggu." Rencana Mo yeon.

"AKu akan menyita ponsel Dae Young dan akan perhi liburan. Aku akan memesan hotel di tempat terisolasi lalu menguncinya untuk berperang." Rencana Myeong Ju.

Mo Yeon tersenyum dan Myeong Ju juga.



Mo Yeon mendapat pesan, Ia berkata Daebak!! Myeong Ju mengira Mo Yeon mendapat balasan. Mo Yeon menjelaskan kalau Sersan Kim mendapat libur setelah memenangkan pertandingan sepak bola.

Mo Yeon menjelaskan juga kalu ia ikut Group pacar tentara. Lalu ia menulis balasan,,"Selamat, Hye kyeong."

Dan mereka minum-minum lagi. Di luar hujan. Mo Yeon berharap kalau pacar mereka ada disana bersama mereka saat ini.

"Mereka akan kembali segera." Kata Myeong Ju.

"Pasti kan? segera?"

Mo Yeon menyentuh kalung pemberian Shi Jin dan kembali menatap keluar mengikuti Myeong Ju.


Di bandara, tiga anggota Tim Alpha disambut oleh Komandan dan yang lainnya. Sersan Choi menggantikan posisi SHi Jin untuk memimpin penghormatan kepada Komandan. Komandan membalas hormat mereka.

Sersan Choi melapor, operasi sudah selesai, tapi tubuh mereka....... tidak bisa ditemukan.



Komandan menggantung bajunya yang basah di ruangannya. Ayah Shi Jin datang. Komandan memberikan kalung pengenal Shi Jin. Ayah mereimanya dan menangis, tanpa kata-kata. Komandan memberinya hormat.



Myeong Ju sedang memesan hotel melalui ponselnya, ia menggantung kalung pengenal  Dae Young di lampu baca meja kerjanya.

Sersan Kim Beom Rae mengetuk pintu. Mo Yeon masih asik melihat ponselnya. Sersan Kim mengulangi lagi, Myeong Ju menyuruhnya bicara saja, ia mendengarkan kok.

Myeong Ju senang, pasti Dae Young kembali kan? Ia mencopot jas dokternya lalu mengambil kalung pengenal Dae Young. Sersan Kim mendekat.

"Saya, Sersan Kim Beom Rae, akan melapor." Kata Sersan Kim dengan suara gemetar.

Myeong Ju menyadari kalau ada sesuatu.



Diwaktu yang sama. Sersan Choi juga datang ke rumah sakit Haesung untuk menemui Mo Yeon. Mo Yeon mengira tadi Shi Jin yang datang.

"Tapi, apa yang membawamu kemari?" Tanya Mo Yeon dengan senyum sumringah.

Tapi Sersan Choi menunjukkan ekspresi sedih."Aku sungguh... minta maaf."

"Tentang apa?"



Cut Ke Sersan Kim..

"Tentara pasukan Khusus... Kapten Yoo SHi Jin dan Sersan Mayor Seo Dae Young..."



Cut Ke Sersan Choi

"Selama misi, merea gugur."

"Apa yang kau katakan?"



Cut ke Myeong Ju.

"Laporan macam apa ini?



Cut Ke Mo Yeon

"Aku tidak mengerti, satupun yang kau katakan. Bagaimana ini?"



Cut Ke Myeong Ju.

"Berikan laporan yang benar. Seperti yang biasanya kau lakukan. Ulangi lagi. KU BILANG ULANGI LAGI!!"

Air mata Myeong Ju makin banyak di matanya dan sudah siap tumpah.



Begitu pula Mo Yeon. Sersan Choi menyerahan surat Shi Jin.



Mo Yeon membaca surat tersebut di lorong rumah sakit, sendirian.

"Sebelum menjalankan misi, kami menulis surat wasiat. Aku berharap kalau kau tak akan pernah membaca surat ini. Apabila kau membaca surat ini, itu artinya bahwa...  Aku tidak bisa menepati janjiku. AKu bilang jangan khawatir, Aku bilang aku tidak akan terluka, Aku bilang aku tidak akan mati, Aku bilang aku pasti kembali, Aku gagal menjaga semuanya. Aku minta maaf. Dimanapun kau berada kau akan selalu bersinar."


Mo Yeon berlari dan ia sekarang mengendarai mobil. ia menagis mengingat isi surat Shi Jin,

"Aku bertemu denganmu, dan aku jatuh cinta kepadamu. Dan beginilah bagaimana kita berpisah. Aku sangat minta maaf."



Myeong Ju mendatangi ruangan ayahnya, menuntut konfirmasi.

"Tidak kan? Tidak benar kan? tidak kan?"

"Ayah minta maaf."

Myeong Ju memohon, ayahnya sehanrusnya mengatakan kalau ini tidak benar. Ayah memberikan surat Dae Young. Myeong Ju menolah menerimanya, jika ia membacanya, jika ia menerimanya maka artinya dia benar-benar pergi.

"Ini semua salah ayah. Seharusnya kami bahagia, Tapi ayah mencuri waktu itu dari kami. Aku bahkan belum baikan dengannya. Aku hanya mengatakan kata-kata yang menyakitkan. "

Ayah kembali mengulurkan surat Dae Young, Ayah mengatakan kalau Dae Young adalah tentara yang terhormat. Ayah meminta Myeong Ju untuk menjaga surat itu baik-baik. Myeong Ju tetap menolaknya.

"Aku bilanh tidak mau."

Lalu Myeong Ju mengambil suratnya dari tangan ayah dan membuangnya ke meja.



Mo Yeon akan menemui Komandan mungkin dengan membawa surat Shi Jin, tapi ia beralih saat melihat Myeong Ju menangis pilu. Mo Yeon mendekatinya.

"Kenapa kau disini? Kenapa kau menangis? Apa yang bisa aku lakukan jika kau menangis seperti ini?"

Myeong Ju makin keras menangisnya.

"AKu tidak bertanya apapun padamu. Aku berdoa sepanjang jalan kesini. Apa yang harus aku lakukan jika kau seperti ini? Ayahmu memiliki posisi tinggi? Apa dia sudah memastikannya? Dia bisa saja salah. Ini bisa jadi kesalahan diagnosis. Apa dia sudah mengecek semuanya?"



Mo Yeon menggoncang-goncang Myeong Ju untuk kemudian ia melihat surat Dae Young untuk Myeong Ju di genggaman Myeong Ju.



Myeong Ju tetap saja menangis, Mo yeon menyuruhnya untuk berhenti menangis dan jawab pertanyaannya. Mo Yeon menggoncang-goncang Myeong Ju, airmatanya mulai tumpah, dan ia melihat kalau Myeong Ju menggenggam surat Dae Young.

"Be... benarkah?"

Myeong Ju masih belum menjawabnya.

"Apa dia benar tidak akan kembali? Apa aku tidak akan...bisa melihatnya lagi? Apa dia benar-benar tidak akan kembali?" Tanya Mo yeon di sela tangisnya.



Myeong Ju mengangguk. Mo yeon terduduk lemas, dia menangis sampai sesenggukan.



Surat Shi Jin berlanjut.

"Jika aku boleh meminta, Aku berharap agar kau tak menagis terlalu lama. Hati-hatilah.. Kuatlah. Dan janan memikirkanku berlarut-larut. Aku mohon."



Letnan Park mendatangi Mo Yeon, ia membuat laporan resmi untuk Mo yeon bahwa Yoo Shi Jin dan Seo Dae Young meninggal karena kecelakaan selama pelatihan.

Letnan Park menyodorkan dokumen perjanjian agar Mo Yeon tidak menyebarkan alasan kematian asli mereka. Letnan Park minta Mo Yeon untuk kooperatif.

"Apa dia meninggal untuk menyalamatnya nyawa orang lain?" Tanya Mo Yeon.

"Ya. Itu benar."

"Apa kematiannya... Adalah demi menjaga perdamaian?"

"Ya. Itu benar."

"Apa dia meninggal...untuk menyelamatkan negara kita?"

"Ya...  Itu benar."

"Dan negara ini.. memebutuhkanku... untuk menandatangani dokumen ini."

"Saya minta maaf."


Mo yeon menatap dokumen di hadaannya. Dia menucapkan kalimat untuk Shi Jin.

"Kenapa denganmu? Mengapa kaku memilih hidup... dengan akhir seperti ini? Kenapa ? bahkan kematianmu juga adalah rahasia? Aku harap, apa yanga akan aku lakukan ini... adalah apa yang kau inginkan untuk kulakukan. Yoo Shi Jin-Ssi."

Mo Yeon menandatangani dokumen dengan menahan tangisnya.

Lanjut Part 2...