.

Sinopsis Drama Korea Descendants of The Sun Episode 7 Part 2

Sinopsis Drama Korea Descendants of The Sun Episode 7 Part 2

Mo Yeon terlihat sedang menangani seorang pekerja proyek yang terluka karena tusukan pada bagian dada. pekerja itu memohon kepada Mo Yeon untuk menyelamatkan nyawanya dan ia akan patuh selama proses pertolongan itu.

Sementara itu di luar reruntuhan puing bangunan, Kim Ki Bum menyumbangkan darahnya untuk pasien yang sedang dioperasi oleh Myeong Joon yang dibantu oleh dua petugas perawat.

Saat sedang melakukan pembedahan, Myeong Joo memerintahkan Min Ji untuk memberikan makanan pada pasien ini ketika dia berhasil selamat.

Mendengar ucapannya, Kim Ki Bum kemudian bertanya apa pasien ini akan selamat.

“Bukankah kau dalam proses untuk menyelamatkannya?,” ucap Myeong Joo.


Sementara itu, di tempat lain Ye Hwa mengambil darah para wartawan untuk didonorkan kepada para korban. Dia kemudian menawarkan tiga pilihan untuk orang yang bisa mereka wawancarai — yang pertama Kepala Rumah Sakit Haesung, yang kedua Kepala Pembangkit Listrik Moru dan yang terakhir Kepala Taebaek Unit


Tapi mereka malah kompak untuk mewawancarai Daniel Spencer karna menurut mereka akan menyenangkan untuk menemui seseorang yang sangat berpengalaman dengan lokasi bencana, dan juga tampan sampai membuat Ye Hwa kesal.


Dae Young dan seorang pasien menyusuri puing reruntuhan di dalam di dalam bangunan, tapi mereka menemukan sebiah tangki oksigen yang bocor, yang digunakan oleh para pekerja untuk mengelas  sehingga mereka berasumsi bisa saja ada bahaya untuk ledakan kedua.


Dia memperingatkan anak buahnya untuk berhati-hati karna situasi disekeliling mereka yang tidak stabil, tapi dia tiba-tiba saja terjatuh kebawah karna lantai bangunan yang retak
Dengan segera pasukan tersebut menginformasikan kepada pasukan yang lainnya melalui walkie talkie bahwa Sersan Dae Young menghilang.


Sementara Kim Ki Bum dan Myeong Joo yang sedang berada di luar juga mendengarnya sehingga Kim Ki Bum memutuskan untuk pergi menyelamatan Dae Young.

Tapi Myeng Joo berteriak, “Saya bilang duduk. Apa kau akan membunuh pasien ini?”


Kekhawatiran tampak jelas di wajah Myeoong Joo, tapi untunglah Dae Young segera memberitahu teman-temannya sesama pasukan lewat walkie talkie bahwa keadannya baik-baik saja. Untungnya, dia hanya jatuh diatas gundukan pasir sehingga tidak mengalami luka parah.


Mendengar kabar tersebut dari walkie talkie Kim Ki Bum, Myeong Joo terlihat lega meskipun dia dengan ketus menyuruh Kim Ki Bum untuk berhenti memberitahunya kabar tentang keadaan Sersan Deo. Dia beralasan hal itu membuatnya terganggu, apalagi saat ini dia sedang melakukan pembedahan.


Shi Jin datang menemui Mo Yeon untuk meminta instruksi apa yang harus dia dan anak buahnya lakukan dalam membantu kedua pekerja tersebut.


Dengan kepala tertunduk, Mo Yeon terlebih dahulu memberitahu Shi Jin  tentang kondisi Manajer Goo dimana nekrosis di kakinya sudah dimulai, dan ketika batu besar yang menindih tubuhnya diangkat ada kemungkinan besar dia akan mengalami crush syndrome (keadaan klinis yang disebabkan kerusakan otot, yang jika tidak ditangani akan menyebabkan kegagalan ginjal).


Sementara untuk pekerja lokal yang tertusuk kerangka besi, Mo Yeon menginformasikan bahwa kerangka baja telah mencegahnya dari pendarahan. Dan bahkan jika mereka memindahkannya ke ruang operasi tidak akan mudah untuk menghentikan pendarahan hebat.


Mo Yeon menatap Shi Jin dengan tajam, dan bertanya: “Dalam keadaan seperti ini siapa yang akan kau selamatkan?”

“Mengapa kau bertanya padaku seperti itu? Kau sudah membuat konsultasimu dan diagnosamu. Sekarang kau hanya perlu memberitahu kami keputusanmu,” jawab Shi Jin.

Mo Yeon: “Tapi, tetap saja kau lebih berpengalaman.Saya pikir kau akan bisa membuat pilihan terbaik.”


Shi Jin: “Yang terbaik? Dimatamu, apa kau melihat apa yang kami lakukan adalah yang terbaik? Di tempat penyelamatan, tidak ada hal seperti yang terbaik. Kami hanya mengatasi masalah yang ada di depan kami”


Dengan mata berkaca-kaca Mo Yeon berkata, “Tentu saja, saya tahu. Saya tahu itu, tapi ….Sepanjang hari, merawat pasien tanpa urutan yang benar. Merawat pasien dalam keadaan kacau. Saya tak tahu jika ini benar.”


“Kau sudah melakukan yang terbaik. Dalam situasi ini, melakukan apapun yang kau bisa dalam situasi kacau ini, atau tidak melakukan apapun dan meninggalkan mereka untuk meninggal. Kau hanya bisa memilih salah satunya. Dan bahkan hanya ada sedikit waktu untuk merengek,” ucap Shi Jin.


“Apa yang kami cari darimu bukan kesempurnaan mutlak atau keterampilan Tuhan. Seorang dokter yang bahkan tidak bisa menemukan perawatan yang tepat untuk virus flu, kami mencari sebuah diagnosa dari seorang dokter dengan level seperti itu sekarang.”


Shi Jin kemudian meminta keputusan yang akan dibuat oleh Mo Yeon sebagai seorang dokter. Mo Yeon menatap Shi Jin dan berkata, “Perintah penyelamatannya adalah ……..”


Dan kita bisa melihat, Pekerja Lokal yang tertusuk kerangka baja dibawa ke Medi Cube. Mo Yeon  segera memberitahu Sang Hyun keadaan pasien dimana kerangka baja itu telah menusuk dadanya, tapi dia sendiri tidak yakin apa kerangka besi itu menyentuh tulang belakang.


Meskipun demikian, Sang Hyun meminta meminta Mo Yeon untuk menghirup udara segar karna melihatnya begitu tegang, dan menyerahkan pasien itu ke tangannya.


Tapi, Mo Yeon menolak dan tetap ingin menolong pasien itu. Sang Hyun kemudian memberitahu Mo Yeon keadaan sangat berantakan mulai dari portable x-ray yang tidak bisa mereka gunakan sampai alat  sterilisasi yang rusak.


Meskipun keadaan sangat terbatas, Mo Yeon memberitahu sang Hyun mereka harus tetap melakukan sesuatu. Dia meminta Sang Hyun untuk ikut dengannya ke ruang operasi.


Di dalam ruang operasi, Mo Yeon berkata, ”Pasien ini tidak akan mati hari ini.” Dia memberitahu timnya bahwa mereka akan mengeluarkan kerangka bajanya dengan kecepatan dan ketepatan, dan mereka segera bersiap.


Sementara itu, di daerah bencana lokasi proyek, para pasukan mengumpulkan para korban yang telah meninggal, dan salah satu diantara mayat yang terbaring itu tergeletak Manajer Goo.


Shi Jin duduk disampingnya, melihat barang peninggalan korban Manajer Go yaitu sebuah dompet yang berisi sebuah foto keluarga Manajer Goo.


Dia menaruh dompet itu kembali ke jenazah korban, dan sebelum anak buahnya menutup jenasah korban dalam kantung mayat, Shi Jin memberikan hormatnya sebagai penghormatan terakhir.


Pembedahan yang dilakukan oleh Myeong Joo dan timnya berhasil menyelamatkan pasien, dan dia tak lupa berterima kasih pada Kim Ki Bum atas bantuannya.


Komandan Park Byung Soo datang ke lokasi proyek yang luluh lantah ditemani Para pasukan Unit Taebaek untuk berganti shift dengan Shi Jin dan pasukan lainnya.
Dalam perjalanan menuju barak, di atas mobil para pasukan yang pastinya sangat kelelahan karna telah bekerja keras menolong para korban hanya duduk terdiam, tak sepatah katapun keluar dari mulut mereka.


Myoeng Joo melihat tangannya yang masih ada noda darah usai menolong korban gempa, sementara Dae Young diam-diam menatapnya.

Letjen Yoon bertemu dengan ayah Shi Jin untuk memberikan kabar bahwa tentang penyelamatan yang masih berlangsung di Urk, dan semua tim medis yang berhasil selamat dari gempa termasuk putrinya.
Letjen Yoon memberitahu Ayah Shi Jin  bahwa dia tidak menghentikan putranya Kapten Yoo yang memutuskan untuk pergi, dan mengungkapkan rasa kekhwatirannya sedikit berkurang terhadap Myeong Joo karna keberadaan Shi Jin.

Dia mengakui sangat menghargai Shi Jin, dan menambahkan bahwa Shi Jin bisa mendapatkan empat bintang meskipun ayahnya dengan nada merendah mengungkapkan bahwa dia sendiri ragu apa putranya bisa meraihnya.
Meskipun demikian Letjen Yoon sepenuhnya yakin Kapten Yoo Shi Jin bisa meraihnya, dan menurutnya Shi Jin adalah prajurit yang mengagumkan.


Chairman Han kemudian menginformasikan kepada semua staf rumah sakit Haesung termasuk ibu Chi Hoon bahwa semua tim relawan medis berhasil selamat, dan sekarang mereka sedang bekerja keras dalam tugas penyelamatan, dari pesan yang ia terima dari unit Taebaek.

Hee Eun yang lagi hamil besar sangat lega mendengar kabar baik ini. Ji Soo kemudian bertanya kapan penerbangan pulang untuk para tim medis siap, dan Chairman Han memberitahu mereka bahwa pesawat terbang akan segera dikirim segera setelah bandara lokal kembali normal.


Mendengar informasi tersebut, ibu Chi Hoon segera bertanya kapan hal itu akan dilakukan, dan mendesak untuk berbicara melalui telpon dengan Chi Hoon, putranya.
Tapi Chairman Han memberitahu ibu Chi Hoon bahwa keadaan disana tidak memungkinkan untuk menerima telpon, dan panggilan hanya bisa dilakukan melalui telpon satelit yang ada di kantor pusat.

Mendengar penjelasannya, ibu Chi Hoon yang makin kesal sampai berteriak kepada Chairman Han, “Hei!,” dan tetap mendesaknya untuk bisa berkomunuksi dengan putranya menggunakan telpon satelit itu.

Ji Soo tak habis pikir mendengar ibu mertua Hee Eun sampai berani memanggil Charman Han dengan ucapan kasar “Hei”, sehingga Hee Eun menjelaskan bahwa awalnya tanah rumah sakit ini adalah milik keluarga Chi Hoon.


Dia kemudian menirukan gaya dan ucapan Chairman Han di depan mertuanya — memegang tangan Hee Eun dan berkata, “Nyonya, saya tidak melakukan apapun yang membuat anda sedih, kan?”

Kembali ke Urk, Chi Hoon yang lagi tertekan duduk sendirian merenungi nasib pasien yang ditolongnya, sambil bertanya-tanya apa pasien itu bisa selamat.


Tak berselang lama, Sang Hyun datang bergabung untuk sejenak merokok tapi Chi Hoon tak punya korek api. Melihatnya tampak tertekan, sang Hyun bertanya apa Chi Hoon baik-baik saja, tapi dia kemudian meminta sebatang rokok.
“Dokter macam apa yang merokok? Berhenti!,” ucap Sang Hyun dan mereka berdua duduk sejenak menghirup udara segar, untuk sementara menghilangkan kepenatan.


Sementara itu, di ruangan Medi Cube para tim medis disibukkan dengan merawat para korban proyek yang terluka sementara Jin Yuong Soo berlagak di depan Ja Ae dan Min Ji juga memerlukan perawatan sama dengan korban lainnya.
Di depan mereka berdua, Jin Young Soo meminta disuntikkan glukosa atau vitamin, beralasan gula darahnya turun karna berdiri seharian – berlagak seolah-olah keadaannya sedang parah.


Lewat walkie talkie Ja Ae menghubungi Sang Hyun, dan meledeknya dengan melaporkan bahwa ada seorang pasien yang membutuhkan segera perawatan dimatanya.
“Kecuali jika dia buta, tidak mungkin dia tidak melihat kondisi pasien lainnya, tapi dia mengatakan dia hampir mati kelelahan. Dia masih kuat berbicara,” hingga akhirnya membuat mereka berdua bercekcok tapi Ja Ae tak ambil pusing.


Dae Young memberitahu Shi Jin dengan makanan yang tersisa akan sulit memberikan makanan pada semua orang termasuk tim medis dan korban yang terluka.
Tapi, tak berselang lama sebuah mobil datang ke barak. Seorang wanita keluar, yang adalah pemilik sebuah bar, membawa makanan yang cukup untuk 100 orang.

Sehingga anak buah Shi Jin yang kelelahan bisa makan dengan lahapnya. Shi Jin datang menemui mereka dan menginformasikan bahwa kantor pusat telah memberitahu keadaan mereka kepada orang tua mereka masing-masing, dan akan mengijinkan untuk melakukan vifeo call segera setelah alat komunikasi mereka kembali berfungsi.


Dia kemudian memberitahu anak buahnya bahwa besok mereka kembali akan melanjutkan misi penyelamatan, dan menasihati mereka untuk tidak terlalu memikirkan situasi yang mereka lihat hari ini.
“Kalian hanya perlu mengikuti perintah karna saya akan memberikan kalian perintah yang tepat,” ucap Shi Jin.


Dae Young membasuh mukanya, dan tanpa ia sadari Myeong Joo datang menemuinya. Myeong Joo melap wajah Dae Young dan bertanya, “Datang kesini. Apa itu kemauan Seo Dae Young atau perintah ayahku?”
Dae Young memberitahu Myeong Joo bahwa mengirim prajurit yang berkompeten di sebuah tempat berbahaya adalah tanggung jawab komandan.


Myeng Joo mengakui tidak suka mendegar jawabannya, dan tak mengerti mengapa dae Young harus memihak pada ayahnya.


Dae Young kemudian menyuruh Myeong Joo untuk menelpon ayahnya karna mengetahui ayahnya pasti sedang mengkhawatirkannya.

Tapi Myeong Joo malah balik bertanya, “bagaimana denganmu?”

“Selama ini saya berlari darimu, saya menyesalinya,” ucap Dae Young.

“Tapi kau hanya berdiri  saja?,” tanya Myeong Joo sehingga Dae Young kemudian memeluknya dengan sangat  erat.


Sementara Ja Ae merebus peralatan medis karna alat sterilisasi yang rusak akibat gempa, Sang Hyun datang membantunya tapi keduanya kemudian bercekcok tentang sebuah file rahasia yang ada di laptop Sang Hyun.


Mo Yeon dengan didampingi tim medis lainnnya melihat kondisi kesehatan satu persatu pasien yang telah mereka tolong. Pasien pertama yang mereka datangi adalah pasien yang sebelumnya tertusuk kerangka besi di dada kanannya yang berhasil mereka keluarkan. Sang Hyun memberitahu Mo Yeon  pasien tersebut masih belum sadar, sehingga mereka masih harus mengawasinya sampai besok.


Mo Yeon memeriksa pasien kedua yang hampir meninggal di depan pembangkit listrik, dan dia memberikan label tag hijau di tangannya setelah kondisinya sudah jauh lebih baik membuat senyuman muncul di wajah pada tim medis lainnya.

Mereka kemudian beralih kepada pasien ibu hamil yang mengalami fraktur tibia, yang berhasil mereka selamatkan yang kondisinya kini semakin lebih baik.


Mo Yeon melihat ponsel Chi Hoon disamping ibu hamil ini, dan Chi Hoon memberitahu Mo Yeon dia sedang memperdengarkan musik klasik yang selalu ia dengar untuk menenangkan bayi yang ada dalam kandungan pasien.
Mo Yeon memuji sikapnya, menganggap Chi Hoon sekarang telah sepenuhnya menjadi seorang dokter dan sekaligus seorang ayah.


Saat akan keluar dari ruangan Medi Cube, Mo yeon kebetulan melihat seorang pria yang memberinya sepasang sepatu boot. Dia mengembalikan sepasang sepatu boot itu dan mengucapkan rasa terima kasihnya.


Mo Yeon datang ke lokasi proyek yang luluh lantah, dan kemudian menyalakan lilin di depan papan pengumuman tentang korban yang berjatuhan di lokasi tempat runtuhnya pembangkit listrik tersebut.


Di papan pengumuman itu, dia melihat korban yang terluka berjumlah 41 orang, beberapa foto untuk korban meninggal yang belum teridentifikasi.


Mo Yeon berjalan menyusuri lokasi proyek pengembangan listrik itu yang telah luluh lantah, dan tiba-tiba saja dia membayangkan keadaan lokasi pembangkit listrik yang belum hancur karna gempa.



Dia berada di tempat itu, melihat keadaan lokasi pembangkit listrik yang tidak hancur dan para pegawai melakukan tugas mereka masing-masing.


Dia melihat Manajer Goo sambil menjewer telinga salah satu pegawainya, tersenyum padanya dan berkata, “Dokter, kau sudah bekerja keras.”


Bayangan itu membuatnya menangis dengan tersedu-sedu, memikirkan Manajer Goo yang telah meninggal.  Sementara itu, Shi Jin hanya memandanginya dari kejauhan.


Anak buah Shi Jin melihat bahunya terluka sehingga menyarankan untuk memanggil tim medis untuk menjahit lukanya. Tapi ternyata Mo Yeon sudah ada berdiri di sampingnya.


Sambil menjahit luka Shi Jin, Mo Yeon bertanya, “Bagaimana ini bisa terjadi?”
Dan Shi Jin menjawab karna menyelamatkan di reruntuhan, membuat Mo Yeon tersenyum kecil mendengar jawabannya.
“Saya baik-baik saja,” ucap Mo Yeon.
Shi Jin: “Apa kau mendengarnya. Saya bertanya dengan berbisik.”


“Saya bahagia kau ada disini di lokasi bencana. Saya bersyukur kau berjuang disini bersamaku.

Shi Jin bermaksud untuk menjelaskan ucapan kasar yang dilontarkannya tadi saat berada di lokasi proyek, tapi Mo Yeon langsung memotong ucapannya dan berkata dia bisa memahaminya.


“Apa kau tahu berapa lama saya telah menjadi dokter? Orang yang telah melihat lebih banyak orang mati ketimbang para pasukan adalah dokter yang memegang pisau.”
“ Jika kata-kataku untuk menenangkanmu terlalu ceroboh, maka saya akan berhenti untuk mencoba. Saya ingin kau baik-baik saja. Dengan tulus.”


Mo Yeon kemudian meminta Shi Jin untuk mengganti kata-kata canggungnya dengan sebuah leluconnya. Dia memberitahu Shi Jin bahwa apa yang paling dibutuhkannya sekarang adalah sebuah lelucon.
Shi Jin: ”Kau sangat cantik. Tadi saya melihatmu. Kau adalah seseorang yang selalu cantik.”
Mo Yeon: Jangan serius
Shi Jin: Itu sebuah lelucon.


Tapi, Shi Jin kemudian berkata: “Saya sangat merindukanmu. Apapun yang kulakukan, saya terus saja memikirkanmu. Saya berusaha mengeluarkannya dari tubuhku dan saya berusaha keras. Saya minum dan mencoba segalanya. Meskipun begitu, saya masih merindukanmu.

“Apa itu sesuatu yang tak terpikirkan olehmu? Maka coba renungkan. Karna saya serius,” ucap Shi Jin.


Lanjut episode 8 ya.........